Rabu, 11 April 2012

Tiap - tiap....

Tiap langkahku
tiap satu huruf yang terucap
tiap desah nafas yang kulakukan
selalu saja kupertanyakan setiap saatnya

Apakah kehalusan tuturku selama ini selalu menunjukkan keikhlasan dalam hatiku?
Jawabannya selalu tidak pasti

Apakah Senyuman yang selalu ada di wajahku ini pertanda akan ketenangan jiwaku?
Jawabannya pun tidak pernah pasti

Apakah keramahan sifatku pada orang lain selama ini menunjukkan ketulusan niatku?
Aku pun selalu bertanya tentang kepastian

Hanya ketakutan yang selalu kurasakan,
hanya kebimbangan yang terus kuhadapi
Semoga Allah Yang Maha Memutar balikan hati yang terus menjaga hati ini ketika di awal memulai, ketika di tengah berjuang dan ketika di akhir bermuhasabah..
:)

Mimpi tak Sekedar Angan

menjadi seorang fasilitator,sudah menjadi hakekat alami seorang manusia.
karena tidak mungkin ada seseorang yg tidak menjadi fasilitator.
minimal dia akan menjadi fasilitator bagi anaknya nanti, bagi orang tuanya ketika sudah berumur atau untuk orang orang lain yang membutuhkan keberadaan kita.

seorang fasilitator bisa berperan menjadi seorang guru, seorang ayah,seorang sahabat ataupun seorang ulama.
memang sulit untuk bisa memposisikan keempat peran ini,
tp bukan sebuah keniscayaan untuk melakukannya...:)

Entah apa ini

Aku hanya ingin menangis...
deras membanjiri tiap sela hatiku
namun bukan tangisan akan lemahku yang membuai

pintaku untuk keinginanku
melayang selalu terus membuncah
kulalui awalan dengan sebuah kebersamaan
kuwahidkan perjalananku
secuil demi secuil
dengan sebuah kesendirian
apakah ini sebuah pilihan
terkatung dalam keterdiaman
walau akan terus terbayang
tetap kaku yang akan selalu kugenggam

Sampaikah Dalam Persinggahan itu

Semua memang terasa menyenangkan
dalam tebar pesona yang menyatukan kehangatan
dalam buih kecil di tebaran samudra nan luas
tapi semua hanya tampak fatamorgana
sesaat...
dalam kelam yang tiada terasa

apalah arti sebuah ikatan
jika melepas ikatan yang lain
karena simpul takkan pernah bisa terurai
jikalau hati tetap menginginkannya

Ini adalah tempat
dimana cita menjadi nyata
di saat semu jadikan realita
dapatkah angan terbuai dalam benak kehidupan
menggapai sejati akan arti sebuah mimpi

Kamis, 22 Maret 2012

Pentingnya Hal yg Sepele

Ketika akan pulang setelah kegiatan. Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan keasyikan saya mengamati perilaku orang-orang di kramaian. Saya lihat seorang bocah berumur sekitar 10 tahun berdiri disamping saya. Kondisi fisiknya menggambarkan tekanan kehidupan yang berat baginya.

Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi.
“Ya?” Tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi saya melihat orang-orang.
“Maaf, apakah air minum itu sudah tidak bapak butuhkan ?”katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas ransel. Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan gelas yang ada diransel. Saya bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan dan minum di rumah.
“adek Mau ? Nih…”
kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.

Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik motor yg saya kendarai, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai emplasemen. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai yang terlihat kotor. Masing- masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.

Setelah saya perhatikan, rupanya isinya adalah “harta karun” yang mereka temukan. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh sisa nasi catering, dan air minum dalam kemasan gelas !
Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi “harta karun” temuan mereka. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering kereta untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng itu sudah tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang.

Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas !
Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.

Cita-cita ?
Masa Depan ? Lebih absurd lagi.
Bagi saya pribadi, pelajaran berharga yang saya petik adalah, bahwa saya harus makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan oleh Allah. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti misalnya: air minum kemasan gelas. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita sepele, bagi orang lain sangat berarti.
:)

Rabu, 29 Februari 2012

ABAH

ini adalah salah satu puisi yang paling berkesan puisi karya Ratih Sanggarwaty tentang ayah.
dimana tugas dan tanggung jawab seorang ayah itu sangat luar biasa dimata ku, disamping ada seorang ibu yang slalu sangat menyayangi anak - anaknya inilah sosok seorang ayah :

ayah, kuingat ketika kau menungguiku lahir
kau mendampingi ibu
dalam bertaruh nyawa
kau seka peluh ibu
dan membisikkan kata "I Love You" di telinga ibu

dan ketika aku lahir
kau begitu bangga menjadi ayah
untuk pertama kalinya
kau lafazkan azan di telingaku
pada saat itulah aku menjadi Islam
karenamu, ayah

dan kini, ayah
aku telah baligh
kemarin aku terpana menatap diriku di cermin
inikah si bayi yang lucu dulu?
inikah si bayi yang sekarang telah sempurna menjadi perempuan
yang rahimnya telah siap menerima tugas suci
meneruskan tugas kehidupan
melahirkan khalifah-khalifah di bumi

dan pelan kuambil kain segiempat
kututupkan pada aurat rambut dan leherku
agar terjaga martabatku
agar sempurna keshalihanku
agar aku luput dari siksa kubur
agar doaku untukmu setiap malam
naik ke Arsy Allah

dan kau dimuliakan oleh-Nya
di dunia dan akhirat
karena kaulah yang pertama menjadikanku Islam
dengan kalimat syahadat dan azanmu
ketika ku lahir dulu

ya, kaulah yang berhak mulia di mata Allah, ayah...

Senin, 06 Februari 2012

Hidup Tidak Pernah Sampai di Sini

Sebenarnya saya belum usai merapal kisah yang ditulis oleh Donny Dhirgantoro melalui novel “2”. Tetapi beberapa paragraf ini sungguh bergejolak. :)

Sekali lagi semenjak Sang Pencipta menghadirkan diri ini di dunia nyata; sekali lagi, manusia memilih untuk bekerja keras atas apa yang ada di hadapannya, mengganti kata masalah menjadi tantangan. Berjuang, walau hasil yang didapat belum tentu terlihat, bekerja keras mengantarkan impian ke dunia nyata.

Manusia telah sampai di sini karena hidup tidak ada yang sempurna, hidup selalu melahirkan batas antara harapan dan kenyataan. Karena layaknya hidup adalah tantangan yang harus dihadapi dengan berani, dan setiap kita pun tahu, kita menjadi baik karenanya. Manusia tidak akan mencapai tingginya langit dan dalamnya samudera jika hidup adalah sempurna, karena hanya seorang pengecut mengharapkan hidup yang sempurna.

Hari-hari berarti, matahari berarti, dan bulan berarti.

Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia karena Tuhan sedikitpun tidak pernah. Entah sudah ke berapa kali kalimat itu membakar dada yang mendengarnya, menjadikan panas di setiap langkah dengan derapnya berpacu memenuhi lantai kayu gelanggang. Derap langkah dan kelebat tangan cepat dari urat halus yang terus bekerja keras menghunjamkan pukulan tajam. Atau, yang ratusan kali berusaha mengembalikannya. Bermula di gelapnya semburat biru subuh, berakhir di rona jingga senja, kadang matahari hanya selepas lewat di pandangan. Melatih harapan, dengan kerja keras membawa impian menjadi bukti dunia nyata. Berjuang di bawah langit sebuah bangsa besar yang sudah berjalan jauh dan tidak sempurna.

Hari berarti, matahari berarti, dan bulan berarti.

Setiap dari kamu adalah manusia, dan layaknya manusia, hidup tidak ada yang sempurna, tetapi di setiap doamu, kamu tahu, Sang Pencipta sedikit pun tidak pernah meremehkan kekuatanmu.

Setiap dari kamu sudah berjalan cukup jauh dalam hidup, tetapi setiap dari kamu masih ada perjalanan yang harus kamu tempuh. Langkah kaki kita sudah berjalan cukup jauh untuk sampai di sini, tetapi kita selayaknya percaya kalau masih ada langkah untuk berjalan lebih jauh lagi.

Karena hidup tidak pernah sampai di sini.

Karena untuk hidup dan melangkah adalah sebuah anugerah, tetapi untuk terus hidup dan terus melangkah lagi, bekerja keras untuk setiap impian adalah luar biasa.

Karena hidup tidak pernah sampai di sini.

Karena semenjak ada di muka bumi ini, dalam hidup manusia telah saling membuktikan kepada manusia lain bahwa mimpi memang menjadi kenyataan, bahwa keajaiban itu ada. Bahwa dengan impian dan kerja keras manusia bisa…melakukan sesuatu yang kadang ia sendiri tidak menyangka ia bisa melakukannya, melakukan hal-hal yang jauh di luar kemampuannya, melakukan sebuah keajaiban.

(pg. 321-324)