Jika sibuk mencari kesalahan orang lain
akan terpenuhi ingatan dengan kekeliruan orang lain
mengobarkan kebencian pada perilaku orang lain
jadikan pandangan akan kemajuan diri terkaburkan
Jangan bebani pundak dengan semua itu.
Bebaskanlah, Biarkan lepas.
Biarkan diri kita menjadi ringan.
mungkin tak bisa kita menghapus luka yang telah tertoreh
Namun kata maaf bisa tersampaikan
meski permintaan tak kunjung datang
tetap sampaikanlah maaf itu
Selama maaf itu masih tersimpan,
maka kita telah menyediakan ruang kosong
yang memungkinkan terbang melepaskan diri dari belenggu itu
Rabu, 11 April 2012
Inilah Kata Ku
Tiap huruf bernilai manfaat ketika perasaan tak hanya tuk pribadi
Tiap kata bermakna kasih ketika hati memainkan peran yang suciTiap kalimat bertajuk ketenangan ketika niat tulus selalu menenangkanTiap tulisan sarat akan makna ketika jiwa dan ruh bersatu untuk memperbaikiKarena semua bermula dari ikhlasnya diri saat menorehkan semua cita.
takkan berbekas bila tanpa hati, jiwa, dan niat yang tulus.
tidak untuk mengharapkan sebuah komen,
tidak untuk mengharapkan sebuah perhatian,
melainkan untuk memberikan sebuah perubahan menuju sebuah peradaban tertinggi di alam ini.
"Dengarkanlah tiap untaian kalimat yang terucap"
Tiap kata bermakna kasih ketika hati memainkan peran yang suciTiap kalimat bertajuk ketenangan ketika niat tulus selalu menenangkanTiap tulisan sarat akan makna ketika jiwa dan ruh bersatu untuk memperbaikiKarena semua bermula dari ikhlasnya diri saat menorehkan semua cita.
takkan berbekas bila tanpa hati, jiwa, dan niat yang tulus.
tidak untuk mengharapkan sebuah komen,
tidak untuk mengharapkan sebuah perhatian,
melainkan untuk memberikan sebuah perubahan menuju sebuah peradaban tertinggi di alam ini.
"Dengarkanlah tiap untaian kalimat yang terucap"
Tiap - tiap....
Tiap langkahku
tiap satu huruf yang terucap
tiap desah nafas yang kulakukan
selalu saja kupertanyakan setiap saatnya
Apakah kehalusan tuturku selama ini selalu menunjukkan keikhlasan dalam hatiku?
Jawabannya selalu tidak pasti
Apakah Senyuman yang selalu ada di wajahku ini pertanda akan ketenangan jiwaku?
Jawabannya pun tidak pernah pasti
Apakah keramahan sifatku pada orang lain selama ini menunjukkan ketulusan niatku?
Aku pun selalu bertanya tentang kepastian
Hanya ketakutan yang selalu kurasakan,
hanya kebimbangan yang terus kuhadapi
Semoga Allah Yang Maha Memutar balikan hati yang terus menjaga hati ini ketika di awal memulai, ketika di tengah berjuang dan ketika di akhir bermuhasabah..
:)
tiap satu huruf yang terucap
tiap desah nafas yang kulakukan
selalu saja kupertanyakan setiap saatnya
Apakah kehalusan tuturku selama ini selalu menunjukkan keikhlasan dalam hatiku?
Jawabannya selalu tidak pasti
Apakah Senyuman yang selalu ada di wajahku ini pertanda akan ketenangan jiwaku?
Jawabannya pun tidak pernah pasti
Apakah keramahan sifatku pada orang lain selama ini menunjukkan ketulusan niatku?
Aku pun selalu bertanya tentang kepastian
Hanya ketakutan yang selalu kurasakan,
hanya kebimbangan yang terus kuhadapi
Semoga Allah Yang Maha Memutar balikan hati yang terus menjaga hati ini ketika di awal memulai, ketika di tengah berjuang dan ketika di akhir bermuhasabah..
:)
Mimpi tak Sekedar Angan
menjadi seorang fasilitator,sudah menjadi hakekat alami seorang manusia.
karena tidak mungkin ada seseorang yg tidak menjadi fasilitator.
minimal dia akan menjadi fasilitator bagi anaknya nanti, bagi orang tuanya ketika sudah berumur atau untuk orang orang lain yang membutuhkan keberadaan kita.
seorang fasilitator bisa berperan menjadi seorang guru, seorang ayah,seorang sahabat ataupun seorang ulama.
memang sulit untuk bisa memposisikan keempat peran ini,
tp bukan sebuah keniscayaan untuk melakukannya...:)
karena tidak mungkin ada seseorang yg tidak menjadi fasilitator.
minimal dia akan menjadi fasilitator bagi anaknya nanti, bagi orang tuanya ketika sudah berumur atau untuk orang orang lain yang membutuhkan keberadaan kita.
seorang fasilitator bisa berperan menjadi seorang guru, seorang ayah,seorang sahabat ataupun seorang ulama.
memang sulit untuk bisa memposisikan keempat peran ini,
tp bukan sebuah keniscayaan untuk melakukannya...:)
Entah apa ini
Aku hanya ingin menangis...
deras membanjiri tiap sela hatiku
namun bukan tangisan akan lemahku yang membuai
pintaku untuk keinginanku
melayang selalu terus membuncah
kulalui awalan dengan sebuah kebersamaan
kuwahidkan perjalananku
secuil demi secuil
dengan sebuah kesendirian
apakah ini sebuah pilihan
terkatung dalam keterdiaman
walau akan terus terbayang
tetap kaku yang akan selalu kugenggam
deras membanjiri tiap sela hatiku
namun bukan tangisan akan lemahku yang membuai
pintaku untuk keinginanku
melayang selalu terus membuncah
kulalui awalan dengan sebuah kebersamaan
kuwahidkan perjalananku
secuil demi secuil
dengan sebuah kesendirian
apakah ini sebuah pilihan
terkatung dalam keterdiaman
walau akan terus terbayang
tetap kaku yang akan selalu kugenggam
Sampaikah Dalam Persinggahan itu
Semua memang terasa menyenangkan
dalam tebar pesona yang menyatukan kehangatan
dalam buih kecil di tebaran samudra nan luas
tapi semua hanya tampak fatamorgana
sesaat...
dalam kelam yang tiada terasa
apalah arti sebuah ikatan
jika melepas ikatan yang lain
karena simpul takkan pernah bisa terurai
jikalau hati tetap menginginkannya
Ini adalah tempat
dimana cita menjadi nyata
di saat semu jadikan realita
dapatkah angan terbuai dalam benak kehidupan
menggapai sejati akan arti sebuah mimpi
dalam tebar pesona yang menyatukan kehangatan
dalam buih kecil di tebaran samudra nan luas
tapi semua hanya tampak fatamorgana
sesaat...
dalam kelam yang tiada terasa
apalah arti sebuah ikatan
jika melepas ikatan yang lain
karena simpul takkan pernah bisa terurai
jikalau hati tetap menginginkannya
Ini adalah tempat
dimana cita menjadi nyata
di saat semu jadikan realita
dapatkah angan terbuai dalam benak kehidupan
menggapai sejati akan arti sebuah mimpi
Kamis, 22 Maret 2012
Pentingnya Hal yg Sepele
Ketika akan pulang
setelah kegiatan. Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan
keasyikan saya mengamati perilaku orang-orang di kramaian. Saya lihat
seorang bocah berumur sekitar 10 tahun berdiri disamping saya. Kondisi
fisiknya menggambarkan tekanan kehidupan yang berat baginya.
Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi.
“Ya?” Tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi saya melihat orang-orang.
“Maaf, apakah air minum itu sudah tidak bapak butuhkan ?”katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas ransel. Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan gelas yang ada diransel. Saya bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan dan minum di rumah.
“adek Mau ? Nih…”
kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.
Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik motor yg saya kendarai, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai emplasemen. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai yang terlihat kotor. Masing- masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.
Setelah saya perhatikan, rupanya isinya adalah “harta karun” yang mereka temukan. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh sisa nasi catering, dan air minum dalam kemasan gelas !
Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi “harta karun” temuan mereka. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering kereta untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng itu sudah tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang.
Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas !
Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.
Cita-cita ?
Masa Depan ? Lebih absurd lagi.
Bagi saya pribadi, pelajaran berharga yang saya petik adalah, bahwa saya harus makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan oleh Allah. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti misalnya: air minum kemasan gelas. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita sepele, bagi orang lain sangat berarti.
:)
Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi.
“Ya?” Tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi saya melihat orang-orang.
“Maaf, apakah air minum itu sudah tidak bapak butuhkan ?”katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas ransel. Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan gelas yang ada diransel. Saya bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan dan minum di rumah.
“adek Mau ? Nih…”
kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.
Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik motor yg saya kendarai, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai emplasemen. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai yang terlihat kotor. Masing- masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.
Setelah saya perhatikan, rupanya isinya adalah “harta karun” yang mereka temukan. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh sisa nasi catering, dan air minum dalam kemasan gelas !
Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi “harta karun” temuan mereka. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering kereta untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng itu sudah tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang.
Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas !
Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.
Cita-cita ?
Masa Depan ? Lebih absurd lagi.
Bagi saya pribadi, pelajaran berharga yang saya petik adalah, bahwa saya harus makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan oleh Allah. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti misalnya: air minum kemasan gelas. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita sepele, bagi orang lain sangat berarti.
:)
Langganan:
Postingan (Atom)