Jumat, 21 Oktober 2011

Penjual Minyak Wangi dan Pandai Besi

Allah menciptakan manusia dengan kecenderungan meniru orang lain, dan juga beradaptasi dengan lingkungannya. Jika seseorang ingin diterima di lingkungannya, tentu dia harus bersikap seperti kebanyakan orang yang ada di lingkungan tersebut. Maka sejak jauh hari Rasulullah saw telah berpesan kepada ummatnya agar hati-hati dalam memilih teman. Karena seringnya kita berinteraksi dengan seseorang secara tidak langsung akan membuat kita menyesuaikan diri dengan hal-hal yang disukainya dan terpengaruh dengan kebiasaan-kebiasaannya. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa teman merupakan cermin pribadi seseorang. Dengan kata lain, seseorang tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.



“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al- Bukhari dan Muslim)



Berdasarkan hadits di atas dapat diambil pelajaran penting, bahwasanya bergaul dengan teman yang sholeh yang diibaratkan sebagai “penjual minyak wangi” mempunyai 3 kemungkinan, yaitu: dia akan berbuat baik pada kita, kita akan termotivasi untuk ikut berbuat baik, dan kita akan dikenal sebagai orang baik karena dekat dengannya. Sementara lawannya, bergaul dengan teman yang buruk yang diibaratkan sebagai “pandai besi” memiliki 2 kemungkinan: kelak, dia mungkin bisa berbuat jahat pada kita atau mengajak kita untuk berbuat dosa, kita dikenal sebagai orang buruk karena bergaul dengannya.



Beberapa dampak lain bergaul dengan teman yang buruk adalah:1. Memberikan keraguan pada keyakinan kita yang sudah benar, bahkan dapat memalingkan kita dari kebenaran.2. Menginspirasi kita untuk ikut berbuat dosa, padahal sebelumnya kita tidak terpikir tentang maksiat tersebut.3. Tabiat manusia, ia akan terpengaruh dengan kebiasaan, akhlak, dan perilaku teman dekatnya. Karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 927)4. Teman yang buruk akan menghubungkan kita dengan orang-orang buruk yang dikenalnya

.



5. Teman yang buruk akan menggampangkan maksiat yang kita lakukan sehingga maksiat itu menjadi remeh/ringan untuk kita perbuat.



6. Karena berteman dengan orang yang buruk, kita akan terhalang untuk berteman dengan orang-orang yang baik/shalih.



7. Duduk bersama teman yang buruk tidaklah lepas dari perbuatan maksiat seperti ghibah, mengadu domba, dusta, mengumpat orang, dan semisalnya

.



Hm… tentu kita rindu dengan sambutan senyum hangat, jabat tangan, lalu ucapan salam “Assalaamu’alaikum..” setiap kali bertemu. Tentu kita juga rindu dengan wajah-wajah yang baru melihat senyumnya saja, sudah membuat kita merasa bersalah karena telah menggunjing orang lain, bukan semakin mengomporinya. Mengingatkan kita untuk bersegera memenuhi panggilan Allah saat adzan berkumandang, bukan menunda-nundanya. Menasehati kita ketika ada masalah dengan nasehat menyejukkan yang dulu juga pernah diberikan Rasulullah saw. kepada para sahabatnya. Mengajak kita mempelajari Islam lewat kajian-kajian, membuat kita malu lalu tergerak untuk segera beramal saat menyadari amalan mereka jauh di atas kita…



Ya, teman yang baik Insya Allah adalah mereka yang senantiasa mengajak kita untuk mengamalkan ajaran Islam yang isinya penuh dengan kebaikan.



Sobat, tanda seorang hamba dicintai Allah adalah ketika dijadikan mudah, ringan, senang untuk berbuat baik, dan susah diajak berbuat dosa. Salah satu perantaranya adalah dipertemukan dengan lingkungan yang baik, lalu dipertemankan dengan teman-teman yang shalih yang akan memotivasi dan mendekatkan kita pada kebaikan.



Maka sobat, jika selama ini ternyata kita justru merasa cocok dan nyaman bergaul dengan teman yang membuat kita lupa mengingat Allah, tidak takut melanggar larangan-larangan Allah… Insya Allah, sekarang belum terlambat untuk berdo’a dan berusaha agar Allah mempertemankan kita dengan “penjual minyak wangi” atau bahkan menjadi salah satu dari mereka ^_^ (Kie)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar